 | Human | Dec 2, '09 8:41 PM for everyone |
In the process of being human, naturally challenges and obstacles often comes. They can be in the form of problems, failures, love, to even as big as wars.
But if we think about it, each and every one of them always involves others. It’s always started with a person, which makes every person interesting and life dynamic.
The thing is how do we cope with such.
Everyone deals with each problem involving others differently, but one common ground I believe we must all have is respect. Without it, we’re nothing. Because at the very beginning, we should ask ourselves, how would you want to be treated? Then, that’s how we must treat others too, as simple as that. Put yourself in others shoes, if then it hurts you, then it might hurt them too. It’s not rocket science. It’s human. But my unanswered question until now is, "Is respect relative?" I really don't know.
In life, we often encounter people who don’t always speak our “language”. Not everyone share the same opinion, which I never expect anyway. Especially when we meet new friends. Then what I always do is simply observe. Being new means like being someone whose just been born. I’m learning all over again.
Accepting differences, embracing changes, these are the kind of things that we must always anticipate, and manage. Respecting people’s value, hearing what they have to say is not that difficult. Do try it! It’s healthy too, to hear from a different perspective will always broaden our horizon and widen our standpoint.
I realize that’s it’s easier said than done. Lots of us have difficulties with people who have different opinions from ourselves. But by trying, it will only gives us more knowledge, it will practices our patience. Everyday we learn new things.
I’m still learning, that people are different and constantly changing, and basically people are just different. I remember once an elderly told me, "Life is so precious because time passes, and as time passes, people change".
Like I said earlier, it’s human.
Sering kali di film2 yang kita tonton, Hollywood seringnya ya, kita liat orang ditangkep karena menghina atau ngelawan polisi, dianggep menghina aparat negara.
Begitu juga kenyataan yang sebenernya di negara kita, ga boleh menghina atau mencemooh aparat negara, yang memang begitu seharusnya. Tapi kalo di jalan kita ngelawan polisi yang nyari-nyari kesalahan demi beli sebungkus rokok atau susu buat anaknya, kita dianggap menghina, kita harus ngalah? Sori, tapi gua ga setuju. Karena melawan, memberi argumen kembali, dianggap mencemoohkan aparatur negara, tapi bukan negara kan? Aparat negara juga orang kan, makan nasi, minum kopi, dan boker juga.
Nah, tidak boleh menghina negara, negara siapa pun itu, gua sepenuhnya setuju. Tapi ketika oknum yang memakai seragam dan mengaku dirinya adalah kepanjangan tangan negara, berlaku semena-mena, apa kah kita diam aja?
Kita rakyat loh, punya kewajiban bayar pajak yang kita lakukan dan dipotong dari kantor. Dan justru karena itu, kita punya hak untuk dibela kepentingannya. Kita punya hak untuk dilindungi. Kita punya kewajiban ikutin aturan di jalanan, dan kita punya hak untuk dihormatin jalannya, nggak dipotong sana-sini, apalagi oleh bis karyawan DINAS PERHUBUNGAN. Ironis ya, sebuah departemen yang harusnya mengurusi masalah jalanan dan transportasi, berkendara tanpa aturan. Tepatnya, di perempatan Mampang-Tendean, sekitar jam 8.55, bis DINAS PERHUBUNGAN yang motong dari paling kanan mau ke paling kiri. Ada yang merasa kenal sama supirnya, bring it on....
Nggak heran banyak kecelakaan transportasi di Indonesia, kalo dari di jalan raya aja yang mustinya paling teratur, jadi yang paling berantakan. Ironis ya.
Salah nggak kalo gua udah ga punya harapan sama negara ini? Salah nggak, kalo kesempatan pertama yang gua dapet untuk cabut dan pergi ninggalin negara ini, akan langsung gua ambil demi kehidupan masa depan keluarga dan anak gua nanti yang lebih baik di negara maju yang lebih baik? Gua nggak akan lupa kalo gua orang Indonesia, akan kangen ketoprak ciragil dan sate sungai sambas, dan bakmi GM, dan enaknya bali, dan indahnya seluruh negeri ini. Rambut masih item, logat masih Jakarta banget. Semua masih Indonesia banget, tapi I just loose faith in the country...
Karena di Indonesia, justru karena kita rakyat, kita harus rela diinjek-injek sama aparat negara.
  Peminatnya banyak banget... hebat, jadi berhasil dong Transjakarta.... buktinya banyak yang pengen naik, banyak yang perlu naik. Iya tu, saking banyaknya, sampe antrinya luar biasa di halte Dukuh Atas. Sampe mau keluar transit ke arah Blok M-Kota aja susah. Sampe banyak yang duduk2 dulu ngaso saking panasnya. Sampe umpel2an di depan pintu bis. Sampe grobyos sampe kantor... Hebat. Janjinya jadi solusi kemacetan yang nyaman.... Hmm... oke, solusi kemacetan... kayanya nggak tercapai. Nyaman... hmm... lebih jauh lagi kayanya ya... Ironis ya, di tengah hingar bingar pelantikan presiden dan wapres hari ini, masyarakat ibu kota masih dihadapi dengan problem yang itu2 lagi... Sigh...
Headline kompas pagi ini menulis tentang sejarah perebutan kesenian dan budaya antara kita dan Malaysia. Ternyata udah dari taun 1957 terjadi rebut-rebutan, claim Indonesia bahwa lagu kebangsaan Malaysia mengambil melodi dari lagu "Terang Bulan", sampai yang terakhir seperti kita semua tahu, tari Pendet.
Bapak-bapak dirjen ini itu, ahli ini itu, dosen ina inu dari mana-mana, semua bilang dan menyayangkan karena hak kekayaan intelektual di Indonesia menuntut birokrasi yang sulit. Ada ribuan yang udah didaftar, tapi masih dalam proses. Dari anjuran ke semua daerah, hanya 3 propinsi yang sudah mulai menginventaris kesenian dan budayanya. Ya ini lah birokrasi kita. Salah Malaysia? Ya salah kita sendiri kan.
Beberapa hari lalu, salah satu perancang besar Indonesia, Obin, diwawancara di Hard Rock FM dan dia menganalogikan gini, "Ibaratnya orang tua punya anak, lalu anaknya meninggalkan orang tuanya untuk kawin sama orang lain yang orang tuanya gak setuju. Tapi anaknya selama hidupnya juga ditelantarkan sama keluarganya. Lalu si anak mencari kehidupan yang lebih baik, masa gak boleh?" Kurang lebih gitu lah. Ini membuat gua berpikir. Sebagai orang Indonesia, ya sebel, kok seni dan budaya diambil seenaknya. Aneh banget. Tapi ya selama ini kita berbuat apa? Terus terang, gua juga ga banyak berbuat apa2. Mau ngirim sumbangan supaya bisa dikembangkan? Mau diumpanin terus menerus? Kapan mandirinya?
Itu di skala kebudayaan, naik sedikit ke kehidupan sekitar. Di Metro TV, kadang ada acara tentang orang2 yang hidup di perbatasan. Antara Indonesia dan Malaysia, antara Indonesia dan Filipina. Banyak dari mereka yang hidupnya ya susah, kerja di Malaysia atau dagang di Filipina, untuk balik dan hidup lagi di Indonesia. Karena di tempat tinggalnya, nggak bisa kerja, kalo nggak kerja ya nggak bisa makan. Ini cuma urusan perut aja. Dan urusan perut akan selalu jadi yang utama.
Nah, gua cuma pengen ngajak kita ngeliat dari kacamata berbeda. Mungkin banyak yang bilang, "gak bisa disamain dong", dll. Tapi kayanya pantes aja untuk diketahui, karena secara skala, ini satu bagian aja, Sebenernya melebar ke banyak hal lain. Skalanya jauh lebih besar. Skala perekonomian.
Banyak perusahaan Indonesia diambil alih oleh perusahaan Malaysia. Mulai dari Bank, sampai perusahaan Telko. Coba deh browsing dan liat susunan pemegang sahamnya. Lalu cari latar belakang holding company-nya yang nggak sedikit adalah perusahaan Malaysia. Gua bukan ahli ekonomi, tapi ahli-ahli bilang Indonesia perlu investasi. Dari mana pun, walaupun itu berarti dari Malaysia, so be it. Orang Indonesia sendiri yang punya duit bawa uangnya kabur kok, ya cari orang lain aja yang mau investasi di sini. Gitu kira-kira. Kalo tiba-tiba (walaupun hampir gak mungkin), mereka bilang "Ah fuck it", lalu semua meninggalkan investasinya di Indonesia. Then what? Kita mau nanggung penganggurannya? Nganggur dan nggak bisa makan... lagi-lagi lari ke urusan perut.
Gua nggak belain siapa-siapa. Tapi gua hanya mengungkapkan fakta-faktanya. Bahwa kita banyak kelemahannya, mulai dari skala birokrasi pendaftaran hak kekayaan intelektual mengenai seni dan budaya, sampe ke yang lain yang menyangkut hajat jutaan orang. Jadi sebelum teriak-teriak dan marah-marah, mendingan beneran lakukan sesuatu dulu. Apa pun itu. Gua bahkan nggak bilang untuk introspeksi dulu ke diri sendiri. Nggak ada waktu buat introspeksi. Mendingan langsung lakukan sesuatu.
 | bitter | Aug 7, '09 3:07 AM for everyone |
I believe being bitter can be contagious, don't u think?
The thing is, we can never blame anyone for being bitter. Who are we to blame them? We all have our reasons for being bitter. But how can it spread around?
It's by how we treat the people around us. When we are down and out, lots of time we take it out to people around us. Husbands, wives, partners, colleagues, parents, siblings, etc. We can take it out on them or we can also share the stories of why, then we want them to listen to our bitterness. Either way, we are spreading them. See???
And I'm quite certain, the level for bitterness in someone's live can be similar, if not the same, to everyone. Why? Because like I said before, we share our stories. We want them to feel what we feel. We crave for their empathy.
The difference? It's the level of thankfulness and appreciation towards live that's different, therefore resulting in how we deal with the bitterness in life. With a smile or with a frown.
Get a relaxing drink, close our eyes, and think of all the good things that we're blessed with. Or to those who are religious, pray, donate to the needy. It doesn't always make us feel better, I'm not promising mumbo jumbo happiness right afterward. But we will appreciate the life we're living even more.
Have you ever wonder, how does it feel to work in hospitals? I mean beside the doctors or even nurses, because for them, there's certainly no turning back. When they decide to go to med school, they know what they're up to. I'm talking about them who work in the administrations, or even the cleaning services. Are they prepared to see the worst everyday? To hear every screams? They didn't take classes for that in school. Do they just pretend like nothing happen? Or after a awhile they just got tired and stop caring? Or are their emotions long gone after the first week? I wonder how. But bottomline, my hats are off for them. The fact they can keep their face straight while not far there are screams and cries, is undeniably amazing. I know I can't do that, not in this lifetime. So again back to the question what do you think? How? To me, I think their emotion,feelings about these things have just simply run out, none left, all gone. The thing is, I'm not so sure when it involves them.
Sekarang gua tahu kenapa banyak dari kita sulit mengucapkan ketiga kata itu. Entah sulit mengucapkan duluan, atau bahkan sulit sama sekali. Karena mengucapkan ketiganya itu mahal sekali harganya. Mungkin gua telat dan orang-orang banyak yang tahu lebih dulu seberapa mahal mengucapkannya. Memang seberapa mahal sih? Mahal banget, karena harganya harga diri...
I'm sure at one point in our life, we will run into one or two people with all negativity. Even probably we already did. It's normal, like I always said, if everyone is the same, then the world would be a very boring place. Maybe, in some weird sense, we do need them. The trick is how to deal with them. Should we play the game? Should we back off? Should we snap? What? Well, honestly I really don't know. I'm a work in progress. What I do know is not to be one. For instance, let's not point fingers and blame others of a problem. Instead, let's work together to solve it. Let's not judge if you don't want others to look you from head to toe and then rate you. Let's focus on the betterment of our own being rather than complaining about others. If the improvement is not up to you, like the transjakarta for instance (haha... eat that Sutiyoso), well at least try not to ruin it. In this case, all we can do is probably use them to the best we can and not vandalize it. Now let's look back on all our past and negative vibes. I'm certain that we must have had that negative moment in our lives. I know I must have lots, the ones I realize and the ones I don't. For that, I humbly appologize. And now the hardest part, is to be a better man, which I will keep on trying. Which comes down to make me think, "Hey, isn't by writing about people with negative vibes here, makes me another guy with a negative vibe, talking about others?" Hmmm...
Begitu kalo "Rolling Stones" diterjemahkan literal ke dalam bahasa Indonesia. Apakah ketika band legendaris (atau majalah) yang menggunakan nama itu pertama kali, maksudnya memang itu, atau ada padanan lain, gua kurang tahu. Misalnya, sambil jalan-jalan terus teler...hehehe... Kalau di wikipedia, nama ini diambil dari judul lagunya Muddy Waters. Kembali lagi ke masalah terjemah-menerjemahkan. Gua bukan anti bahasa Indonesia, namun hanya mengangkat satu wacana yang memang nggak jarang jadi masalah dalam pekerjaan sehari-hari. Bahwa mengartikan frase bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia nggak selalu semudah menerjemahkannya. Gua yakin dalam beberapa kasus, pasti bahasa Indonesia lebih enak dan mudah dimengerti orang Indonesia. Kaya KFC dengan tagline "Jagonya Ayam". Lebih enak daripada mikirin "Finger Lickin Good" kalo diterjemahkan ke Indonesia jadi apa. Kunciannya mungkin diadaptasi, bukan diterjemahkan. Tapi ketika diadaptasi, arti terjemahan literalnya yang mungkin berbeda sebaiknya jangan lalu dianggap menjadi salah dan lari dari intinya. Selama inti pesan yang ingin disampaikan tercapai, atau inti respon yang ingin didapat dari frase tersebut terpenuhi, maka tujuannya sudah diperoleh. Inti dari semua ini sebenernya apa? Sebenernya kalo emang nggak ada adaptasian yang sesuai atau mendekati bahasa asalnya, mungkin nggak perlu diganti. Dan mungkin sekalian ingin menyampaikan, kalau emang ternyata pilihan kata, frase dan mungkin kalimat itu jadinya terdengar sederhana sekali, atau bahkan cupu dalam bahasa Indonesia, sehingga seolah-olah kita kuli kata-kata kelihatannya seperti tidak bekerja, ya nggak papa, karena memang supaya dipahami orang, begitulah adanya kata-kata yang bisa dipahami dan menggugah mereka. Nggak perlu overdo it. Gua nggak tahu padanan bahasa Indonesianya "overdo it" apa. Mikirin ribet-ribet ke sana ke mari, tapi sebenernya malah nggak ke mana-mana. Sederhana aja. Siapa yang nggak inget, "Ini kandang kita", kampanya Nike Indonesia di piala Asia kemaren. Gileee... keren banget... dan kurang sederhana apa coba? Dan kemampuannya menggerakan massa yang luar biasa untuk belain Indonesia... Gileee... Kembali ke judul di atas, kalo "Batu-batu menggelinding" atau "Sambil teler jalan-jalan", nggak enak kan didengar dalam bahasa Indonesia? Artinya emang nggak perlu dicari adaptasinya.
Siapa yang terkena masalah kurang bayar pajak, hari ini terakhir bayar supaya nggak kena denda 2% tiap bulannya. Jadi buat yang ternyata kurang dan telat sadarnya, berarti lo udah kena denda. Salah satu kasus kurang bayar adalah kalo lo pindah kerja dalam 1 tahun, seperti gua, pasti ada kurang bayar pajak. Nah, setelah diajarin cara ngitung kurang pajak, dan dibantu itungin temen baik gua, maka keluarlah nominal kurang bayar pajak gua. Dan ternyata nominal itu besar sekali, paling tidak buat gua, itu besar sekali. Buat yang lebih paham, mungkin bisa ajarin gua dan yang lain. Tapi dari pemahaman gua sebagai orang awam, dan dalam bahasa awam dan intinya gini, kita pasti akan kena kurang bayar ketika pindah kantor karena semua penghitungan PTKP (penghasilan tidak kena pajak) tidak diakumulasikan, tapi di-0-kan, dinolkan, jadi harus ulang lagi bayar pajak dari awal. Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pajak tidak akan ambil pusing lo setahun pindah kantor 2 atau 3 kali. Gampangnya gini, kalo lo pindah kantor, berarti pajak lo akan dihitung dari nol lagi oleh kantor, karena kantor kan cuma bayar gaji lo sejumlah berapa bulan lo kerja di situ. Sementara kantor pajak gak peduli, pokoknya kalo dalam setahun penghasilan lo lebih dari sejumlah tertentu, maka pajak progresifnya langsung berlaku dong, gak peduli sumbernya dari mana dan bahwa sumber itu (kantor lo) udah bayarin pajak buat lo. Satu lagi yang bisa membantu mengurangi nominal kurang pajak, bukti fiskal yang ada, jangan dibuang, karena itu bisa dan sah untuk digunakan ngurangin jumlah kurang pajak tadi. Dan itu kurang bayar karena pindah kantor itu tidak mungkin dihindari. Mungkin kalo jadi pegawai negeri nggak akan perlu pindah kerja, gua gak tau. Mungkin pindah kerja dipandang aneh oleh mereka, gak tau juga. Kalo mau gampang, pindah kantornya di akhir tahun banget atau awal tahun banget aja, jadi gampang ngitung SPT tahunannya. Jangan tengah tahun! Nah setelah dengan berat hati bayar kekurangan pajak tadi pagi, yang antri dan sampai jam 8.30 petugas teller bank DKI di KPP pratama Pasar Minggu nggak nongol2, baru datang jam 8.45an, maka gua hanya bisa semakin mengelus dada. Gua cuma berharap di benak gua, semoga Indonesia jadi lebih baik. Dengan gua bayar pajak yang katanya kurang ini, dan orang-orang lain yang pada antri untuk bayar pajak, tapi petugasnya mungkin laper jadi mau sarapan dulu, semoga Indonesia jadi lebih baik. Semoga pajak kita jadi transportasi yang nyaman di ibu kota satu hari nanti, entah kapan. Semoga pajak kita jadi monorail yang udah lama dijanjikan itu. Semoga pajak kita jadi jalan tol yg gratis, jadi jalanan yang banyak dan nggak ada lobangnya, jadi jalanan antar kota dan propinsi yang bagus. Semoga pajak kita jadi sekolahan gratis yang banyak buat anak-anak kurang mampu di luar kota dan daerah-daerah tertinggal, supaya Indonesia pinter dan gak perlu korup untuk kaya. Semoga pajak kita jadi lapangan kerja buat pengangguran2 yang susah makan. Semoga pajak kita jadi airport yang lebih bagus dan bersih dan bebas pungli. Semoga pajak kita jadi sistem kebersihan yang bisa menghindari kita dari banjir luar biasa. Semoga pajak kita jadi taman kota yang hijau dan bagus supaya kita bisa jalan-jalan dan olah raga di taman. Semoga pajak kita jadi trotoar yang bagus supaya kita bisa jalan kaki dengan nyaman. Semoga pajak kita jadi halte transjakarta yang lebih terawat. Semoga pajak kita jadi semua hal lain yang baik-baik buat Indonesia. Semoga... Kalo pajak kita nggak jadi hal-hal bagus ini, yaaahhhh... nggak tau deh... semoga petugas pajak dan keluarganya nggak kebakar di alam baka aja kali yaaa....
If you were to dry your hands, which would you prefer using, tissues or hand dryer? Tissues are made of woods from cut down trees, which means your wasting them. Or with a hand dryer, which sucks up electricity from the earth. Or you can just keep your hands wet?
www.adbusters.org/magazine/79/hipster.html It's written about 6 months ago but I just read it this morning. A very good observation of the young and probably the restless. Is this sarcasm? Is this jealousy? Or is this pure honesty from a thorough research?
Maaf, tolong, dan terima kasih. Kalo diperhatiin, sering banget kita lupa ngucapin hal yang sepele ini tapi manfaatnya sama sekali nggak sepele. Terutama mulai di sekitar aja. Nggak bilang "maaf" kalo tas ransel nabrak orang di bis. Abis pesen teh botol kalo dianterin bilang "terima kasih". Atau minta "tolong" kalo mau disiapin sarapan sama pembantu. Kenapa ya? Padahal gak susah. Apa gengsi? Atau emang mulutnya gak kebiasaan bilang kaya gitu. Coba deh dituker posisinya. Seneng dan enak banget denger orang minta "tolong" ambilin pensil dong. Atau bilang "maaf" ditambah permisi saat mau lewat keluar lift yang rame. Dan bilang "terima kasih" setelah ditolong tadi. Kayanya bagus kalo dimulai kampanye semacam ini. Kampanye yang mewajibkan orang ngomong hal-hal ini. Kalo terlalu sulit langsung ngomong tiga-tiganya, gak papa kok mulai dari salah satunya. Pasti rasanya lebih enak deh. Hati juga lebih tentrem kali...hehe... lebih tenang. Walaupun ada yang berat banget kali, kalo harus ngomong ke orang yang disebelin. Tapi justru di situ, ketika kita bisa berusaha lebih baik terhadap semua orang, bahkan yang kita nggak suka. Apa yang kita perbuat, pasti akan balik lagi ke kita. What goes around comes around, right?
My highest gratitude goes to Ms. Tung, ground crew supervisor from China Airlines who helped find my camera on flight CI 7 yesterday. Let China Airlines know, let my friends know, let the whole world know. Ms. Tung deserves more than my online appreciation. So again, thank you Ms. Tung.
Kadang-kadang keliatannya di Jakarta, kelakuan orang yang sangat kaya atau sangat miskin bisa jadi sangat mirip. Mereka berada di posisi seolah-olah "above the law" dalam skala yang berbeda dan dengan cara yang berbeda pula. Misalnya, kalo pada inget, beberapa tahun lalu, ada orang super duper kaya nembak pegawainya sendiri di hotel waktu tahun baru. Setelah itu hilang aja kasusnya... nggak tau gimana kelanjutannya. Mungkin ada yang lebih tau detil, ya udah lah ya... kita semua belum mau masuk koran bagian obituari kan? Itu contoh kasus yang super kaya. Kalo yang super miskin, kaya cerita satu temen gua, ada pemulung yang jalan berlawanan arah di jalan raya halimun. Jalur di situ cuma dua, tiga sama yg buat transjakarta. Satu jalur macet rapet karena mau lurus ke arah landmark, yang di sebelah kiri buat orang belok kiri langsung nggak bisa lewat karena ada si pemulung tadi. Jadilah si pemulung adep2an sama BMW yang disetir seorang cewe. Dua2nya juga gak bisa ke mana-mana. Sementara mobil dan (terutama) motor di belakangnya udah nggak sabar klakson2. Tapi apa yang terjadi? Si pemulung malah yang marah, ngeludahin si BMW, yang mungkin dianggap menghalanginya. Oh mannn... dunia macem apa ini??? Gua yakin semua pernah punya pengalamannya masing-masing. Tapi ngerti kan ironinya di sini? Yang kaya banget bilang, "Gua bayar semua. Gua beli semua!" Sementara yang miskin mungkin nganggep, "Gua gak peduli, gak punya apa-apa ini. Mati ya mati aja sekalian, minggir lo semua!" Kalo udah gini, kita mungkin bisa milih jadi orang waras aja, soalnya saat-saat kita mau marah dan meledak, kita bisa inget nasihat "Yang waras ngalah".
Sebagai kebutuhan kehidupan ibu kota, kayanya udah nggak asing lagi untuk punya kartu kredit. Harus diakui, soalnya memudahkan. Buat belanja bulanan, buat emergency, buat manfaatin diskon, dan lainnya yang mungkin nggak penting tapi menunjang gaya hidup. Yang nggak enak kan pas terima tagihannya. Tapi itu resikonya, kalo mau pake, ya harus mampu bayar. Masa mau belanja, mau makan, tapi nggak mau bayar. Kencing aja bayar. Cuma ini bedanya, bayarnya bisa dicicil, nggak perlu tunai. Namanya aja kartu kredit, kalo musti langsung bayar semua, namanya kartu lunas dong. Temen gua ada yang pernah bilang, "Enak banget lagi punya kartu kredit, bayarnya nyicil aja belakangan!" Gilaaaaa... gua gak tau dia sadar apa nggak, tapi dari bunga yang gede banget itu, banyak banget hal lain yang bisa didapetin. Sayang kan? Musti dingertiin sih, bahwa bank itu juga cari makan, jadi musti untung dari berbagai macam bunga. Karyawannya kan juga perlu digaji. Selalu akan ada nasabah yang doyan ngutang, dan ada yang maunya bayar lunas tiap akhir bulan. Kalo semua nasabah bayar lunas, banknya nggak akan dapet untung, ntar tutup, ntar gak bisa ngasih utang lagi, nggak bisa ngasih kartu kredit lagi. Intinya mungkin sebagai konsumen, kita pilih yang mana. Mungkin gua sok tau dan salah, tapi gua yakin tiap individu sendiri yang tau kemampuannya, yang tau isi dompetnya. Kalo emang gak sanggup, ya nggak usah diikutin gaya hidup ibu kota. Kalo lagi sanggup, ya boleh sekali-kali menghibur diri sendiri. Masa udah kerja cape-cape, nggak boleh memanjakan diri. Gua nggak anti kartu kredit loh, karena gua juga punya. Cuma kalo gua, kayanya nggak akan menganggap ini kartu buat utang karena ini bukan kartu lunas. Takut nggak bisa bayar...
...bosen banget isi dunia. Coba deh pikirin, sesering apapun kita sebel sama orang lain, sesering apapun kita nyela orang lain, pengen mereka setuju sama kita. Atau kita sering bilang satu hal salah tapi tetep banyak yang melakukan hal itu karena menurut mereka itu bener, dan kita bertanya di mana ya otaknya. Ngapain sih gini? Ngapain sih gitu dan lain sebagainya. Tapi sesering itu pula kita mustinya mikir juga, kalo semua orang seperti kita, mikirnya sama kaya kita, semua sependapat sama kita, semua nyetirnya kaya kita, semua ngomongnya kaya kita, di mana serunya? Where's the fun in that? If everyone is the same, then the world would be a very boring place isn't it?
Tadi pagi, di salah satu majalah gratisan ibu kota, ada tulisan tentang pendapat anak-anak muda Jakarta tentang uji emisi. Setuju atau ngga, uji emisi dilaksanakan untuk kendaraan pribadi. Seperti sudah ditebak, semua bilang, setuju aja, asal semua kendaraan umum yang jadi sumber emisi itu juga diuji, ditindak. Kan mereka semua yang kenalpotnya item2, bikin polusi, dan lain sebagainya. 100% benar. Tapi kayanya banyak juga dari kita yang lupa, kalo kendaraan umum itu bisa mengangkut 20 orang atau bahkan lebih kalo dipaksain. Mikrolet mungkin hanya 11-12 mentoknya. Tapi bis-bis itu bisa sampai 40an. Nah, bandingin dengan kendaraan pribadi. Misalnya kita nyetir sendiri, satu mobil satu orang, atau paling banter tiga orang buat menuhin kuota 3 in 1, itu pun kadang satunya joki. Apa yang gua coba sampaikan sebenernya fakta aja. Memang benar kendaraan umum kaya metro mini atau kopaja mungkin bisa gak ada yang jalan kalo harus lulus uji emisi. Tapi perlu diingat isi orang-orang yang naik, sebanding gak dengan mobil pribadi yang isinya cuma satu. Harus gua akui, gua pun masi sering nyetir sendiri, gak munafik dan gak asal ngomong. Gua masih berusaha keras mengatasi rasa malas nunggu transjakarta, jalan kaki kira2 sekiloan lebih lagi dari halte ke kantor, dan lain sebagainya. Semua kembali ke akar permasalahan transportasi umum ibu kota tercinta ini yang sangat tidak memuaskan pembayar pajak seperti kita-kita ini. Tapi panjang kalo ngomongin itu lagi. Kembali ke masalah uji emisi, pasti banyak pemilik kendaraan pribadi gak keberatan ikut uji emisi. Kan mobilnya rapih, servis berkala rajin, ganti oli gak pernah telat, dan lain-lain. Pasti lulus dan bisa kembali jalan dengan leluasa. Lalu kalo semua kendaraan umum seperti bis kota nggak lulus uji emisi, kita bersedia nggak, ngasih tebengan ke orang-orang yang biasa naik kendaraan umum itu? Pernah ada topik pembicaraan yang kurang lebih sama di Metro TV hampir setahun yang lalu. Nara sumbernya orang asing ahli transportasi yang diwawancara. Reporternya menanyakan hal yang sama, "Kendaraan umum banyak yang nggak layak jalan...". Tapi si ahli langsung jawab, "Tapi ingat, kendaraan itu mengangkut berapa puluh orang. Jadi kalo dibandingkan dengan kendaraan pribadi yang hanya mengangkut satu orang, tingkat emisinya bisa sama saja atau bahkan lebih buruk" Si reporter pun terdiam dan menanyakan hal lainnya.
 | Puas | Jul 21, '08 11:17 PM for everyone |
Manusia katanya gampang puas, tapi pada saat yang sama, manusia juga gak pernah puas... Hmm... bingung ya? Kalo kerja, kalo belajar, kalo ujian, gampang banget puasnya. "Yah dapet 8 oklah, udah dapet A"... "ya udah cukup deh ni auditnya, udah cakep", "bagus kok lay-outnya, udah kerenlah". Udah cukup, udah ok, dan udah-udah lainnya. Pokoknya puas. Tapi di hal lain bilang, "brengsek nih, kok gaji gua naiknya dikit banget ya" "velg gua kurang gede nih, mustinya 19, sekarang baru 18..." Mungkin ini biasa ya, kalo yang susah-susah, ya cepet aja puasnya, biar cepet kelar, biar cepet beres. Tapi yang menyangkut keinginan pribadi, selalu pengen lebih... manusiawi kok. Namanya juga manusia. Mungkin yang sulit dan selalu kelupaan adalah bersyukur. Bersyukur kalo udah pake velg 18, yang lain masih naik metro mini loh! Bersyukur bisa milih makanan, banyak yang belum tentu bisa makan loh. Emang susah kok, soalnya duniawi tu enak banget... pingin ini itu. Jadi kalo pengen beli blackberry, pengen beli laptop, etc, ya gak papa asal emang punya duitnya. Kita kerja keras untuk itu kok, ya boleh menghargai diri sendiri. Aktualisasi diri kalo kata teori Maslow ya kalo gak salah? Tapi jangan lupa buat bersyukur, dan kalo udah bersyukur, mungkin lebih baik kalo kita bisa melakukan sesuatu, seperti nyumbang. Satu hal yang gua pun masih sering kelupaan, masih sering susah, kepikir nyumbang ke mana ya. Padahal kalo mau nyumbang ya nyumbang ajalah, gak perlu pilih-pilih. Banyak kok yang perlu. Misalnya di jalanan, sering banget ngerasa iba ngeliat anak kecil minta-minta, terus ngetok2 mobil, megang-megang padahal baru keluar dari bengkel dan diwax jadi kinclong mobilnya, sekarang ada cap-cap tangan kotor deh... hayoooo siapa di antara lo yang sering berpikir gitu??? Brengsek nih, baru dicuci... Tapi gimana, mereka juga gak minta dilahirkan di jalan. Kalo udah gini, ya sabar aja. Sing waras ngalah. Bersyukur lo masih naik mobil bagus. Bingung juga kalo mau ngasih mereka, tapi mereka juga katanya dikendaliin mafia2 brengsek yang tiap pagi dan malem ngedrop dan ngangkut mereka naik truk, gak tau bener apa ngga. Jadi tetep ngasih apa nggak? Supaya mereka besok bisa balik lagi dan ngemis lagi, gitu terus sampe tua? Padahal ada dari mereka sehat... kalo diliat juga, ibu2nya banyak yang agak gemuk, ya artinya mungkin bisa makan dong, nggak susah-susah amat. Jadi mau menyumbang dengan memberi sedekah ke mereka atau ngga? Itu terserah elo. Barusan agak melenceng, tapi kurang lebih gitu...intinya, udah bersyukur atau belum? Memang boleh puas dalam beberapa hal, tapi jangan cepat puas di hal yang lain. Yang paling tau ya diri sendiri, yang bisa ngukur kadar kepuasannya. Pernah ada tulisan entah di mana, kalo masalah kepinteran, liat ke atas, ke yang lebih pinter, kejar terus dan jangan cepet puas. Tapi kalo masalah materi, liat ke bawah, ke yang lebih susah, banyak banget yang nggak bisa makan, dan bersyukur dan berpuaslah bahwa kita lebih beruntung dari mereka.
Kira-kira bisa ngga sebuah negara dijual? Seperti sebuah perusahaan, presiden adalah CEOnya, menteri2 adalah anggota direksi, dan seterusnya... Kalo bisa dijual, kira-kira ada nggak yang mau beli? Kalo di Indonesia, banyak pulau bisa dijual, bisa nggak kira-kira Indonesia dijual...
Kasian banyak orang susah di sini... banyak orang ga bisa makan, ga bisa sekolah. Siapa tau kalo dijual, ada yang beli, ada yang mengelola dengan baik, orang-orang bisa sekolah, jadi pinter, bisa kerja, jadi punya penghasilan, bisa makan. Gak ada lagi yang demonstrasi besar-besaran, bikin macet jalanan, tapi besoknya keadaan juga ga berubah, ya sama aja. Apakah kalo demo, terus harga BBM gak jadi naik? Btw, coba deh tanya sama petugas bangunan, atau orang-orang lain yang susah makan dan anaknya ga bisa sekolah, orang di daerah tertinggal di Indonesia yang kesusahan, apakah mereka merasa terwakilkan ketika banyak organisasi berdemonstrasi?
Lirik lagunya temen gua Pandji bilang, "...metode demonstrasi taun 60an, coba dilihat tingkat keberhasilannya...". Ragu sih gua, kalo demonstrasi membawah hasil. Kecuali mungkin demo masak, orang-orang jadi belajar masak.
Apa yang kira-kira sekarang bisa dilakukan? Ya kerja aja, memutar roda perekonomian, sekecil apapun yang kita lakukan, apapun pilhan yang kita ambil, jadi pegawai, pemilik. Asal bukan pengangguran malas-malasan gak mau kerja, maunya harga murah. "Tapi demo itu kerja, wong abis itu dibayar, lumayan bisa buat makan sehari", gitu salah satu jawaban yang mungkin keluar. Ini justru membuat alasan untuk demo makin nggak valid dong. "Tapi ini urusan perut mas, gak demo ntar gak dapet duit, ntar gak bisa makan..."
Susah ya...
| |